Cinta Laura Ungkap Kepedihan Korban Bencana Aceh: “Hujan Sedikit Saja, Tenda Jadi Kubangan Lumpur”
Trans7News, Jakarta – Aktris sekaligus aktivis sosial Cinta Laura Kiehl baru saja kembali dari Aceh. Namun kunjungannya kali ini bukan untuk liburan atau kegiatan promosi, melainkan misi kemanusiaan. Bersama yayasannya, Act of Love, serta WWF, Cinta turun langsung meninjau lokasi bekas bencana dan kondisi para penyintas di lapangan.
Dari Tanah Rencong, Cinta membawa pulang cerita pilu yang membekas di hatinya. Ia mengaku teriris melihat ribuan warga yang hingga kini masih bertahan di tenda-tenda darurat dengan kondisi jauh dari layak.
Baca Juga:
Psikologi Komunikasi: Kecepatan Membalas Pesan Ternyata Punya Makna Tersembunyi
“Yang membuat aku sangat teramat sedih adalah, hujan sedikit aja daerah di mana korban-korban tinggal itu langsung penuh lumpur yang akhirnya mereka seret ke dalam tenda,” ungkap Cinta Laura saat ditemui di Studio TransTV, Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).
Tenda Jadi Pusat Segala Aktivitas
Menurut Cinta, kondisi pengungsian sangat memprihatinkan. Tenda-tenda yang berdiri di atas tanah basah dengan mudah berubah menjadi kubangan saat hujan turun. Lumpur tak terhindarkan masuk ke dalam ruang tinggal para korban.
Mirisnya, tenda tersebut bukan sekadar tempat beristirahat.
“Tenda ini tuh bukan hanya tempat tidur ya, tapi buat memasak, buat anak-anak belajar, buat beristirahat, semua aktivitas,” sambungnya dengan nada prihatin.
Keterbatasan ruang dan fasilitas membuat para penyintas harus menjalani seluruh aktivitas harian dalam satu ruang sempit yang rentan terhadap cuaca.
Anak-anak Belajar Tanpa Listrik
Sisi kemanusiaan Cinta semakin tersentuh ketika ia meninjau kondisi pendidikan anak-anak di lokasi pengungsian. Sekolah sementara yang ada hanya berupa tenda kosong tanpa fasilitas memadai.
“Anak-anak di situ belajar di lantai, tanpa pencahayaan yang baik. Guru-guru pun kesulitan karena banyak buku hanyut,” tuturnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menghambat proses pemulihan psikologis anak-anak yang sudah terdampak trauma akibat bencana.
Tetap Bersyukur di Tengah Keterbatasan
Di balik keterbatasan ekstrem itu, Cinta justru menemukan pelajaran besar tentang keteguhan hati. Ia mengaku terharu melihat warga yang tetap tegar, bahkan mampu tersenyum dan saling menguatkan.
“Walaupun kondisi kehidupan sulit sekali, mereka tetap bersyukur, tetap bisa tertawa. Itu menunjukkan kekuatan luar biasa. Kita yang di kota kadang suka complain, trip ke Aceh kemarin mengingatkan kita bahwa banyak sekali yang harus kita syukuri,” ucapnya reflektif.
Baginya, semangat warga Aceh menjadi pengingat bahwa solidaritas dan rasa syukur adalah kekuatan utama dalam menghadapi krisis.
Target Rehabilitasi Dimulai Juni
Melalui Act of Love dan kolaborasi bersama Luna Maya serta WWF, Cinta menargetkan proses rehabilitasi desa-desa terdampak dapat mulai berjalan pada Juni mendatang. Namun ia menekankan, proses pemulihan tidak bisa instan.
Baca Juga:
Iran Klaim Serang Pangkalan Udara AS di Kuwait, Ledakan Terdengar di Sejumlah Negara Teluk
“Untuk Aceh bisa kembali pulih butuh triliunan rupiah dan waktu bertahun-tahun. Kita nggak boleh berhenti membantu mereka,” tegasnya.
Cinta pun mengajak masyarakat untuk terus memberikan dukungan, baik dalam bentuk donasi, perhatian, maupun advokasi. Sebab bagi para korban, bantuan jangka panjang jauh lebih dibutuhkan dibanding simpati sesaat.
Perjalanan ke Aceh bukan sekadar agenda sosial bagi Cinta Laura, melainkan panggilan nurani. Dan dari sana, ia membawa pesan sederhana namun mendalam: di tengah keterbatasan, kemanusiaan tetap harus berdiri paling depan.
