Brent Catat Rekor Penurunan Terpanjang di 2025, Harga Minyak Dunia Terjun Bebas
Trans7News, Jakarta – Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (31/12/2025) di tengah kondisi pasokan global yang melampaui permintaan. Kondisi ini diperberat oleh tekanan geopolitik, kebijakan tarif perdagangan, serta langkah produksi negara-negara OPEC+ yang dinilai agresif.
Harga acuan Brent bahkan berpotensi mencatat rekor penurunan tahunan terpanjang sepanjang sejarah pada 2025, menandai periode sulit bagi pasar energi global.
Baca Juga: Can Gio Bangkit Sebagai Batas Pertumbuhan Berikutnya di Kota Ho Chi Minh
Tren Bullish Harga CPO Dinilai Bakal Terus Berlanjut
Mengutip Reuters, sepanjang 2025 harga minyak tercatat tertekan lebih dari 10 persen seiring berlanjutnya ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan global.
Brent crude futures bahkan ambles hampir 18 persen secara tahunan, menjadi penurunan persentase terdalam sejak 2018 sekaligus mencatat kerugian tahunan selama tiga tahun berturut-turut.
Kontrak Brent pengiriman Maret yang berakhir Rabu (31/12/2025) turun 6 sen ke level US$61,27 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), melemah 5 sen ke posisi US$57,90 per barel dan berpotensi mengalami penurunan tahunan sekitar 15 persen.
Pasar minyak sempat menguat di awal 2025 setelah Presiden Amerika Serikat saat itu, Joe Biden, menjelang akhir masa jabatannya memperketat sanksi terhadap Rusia. Kebijakan tersebut sempat mengganggu pasokan ke sejumlah pembeli utama seperti Tiongkok dan India.
Baca Juga: Huawei dan PEA Merilis Solusi Gardu Induk Cerdas Generasi Berikutnya
Dalam Sepekan, Harga Minyak Sawit Melonjak 3 Persen
Ketegangan geopolitik turut memicu volatilitas harga, termasuk eskalasi perang Ukraina setelah serangan drone merusak infrastruktur energi Rusia dan mengganggu ekspor minyak Kazakhstan.
Selain itu, konflik Iran-Israel yang berlangsung selama 12 hari pada Juni lalu juga sempat mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
Tekanan geopolitik berlanjut ketika dua produsen utama OPEC, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terlibat konflik di Yaman.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade ekspor minyak Venezuela serta melontarkan ancaman serangan lanjutan terhadap Iran.
Namun, sentimen pasar kembali tertekan setelah OPEC+ memutuskan untuk mempercepat peningkatan produksi minyak sepanjang tahun ini, yang semakin memperlebar jurang antara pasokan dan permintaan global.
